Cina Undercover - the secret behind the progress of China


English Version

Cina Undercover
the secret behind the progress of China

Author : Chen Guidi & Wu Chuntao
Publisher : Ufuk Publishing House


Several times I have the experience of "smelling" of China. The first time when he had visited the Nanjing City, Jiangsu Province, ten years ago. The first impression that struck the eye was a thick atmosphere of the city with the "communist atmosphere." Slum, dusty, filthy, filthy! Much different from the "capitalist atmosphere" fragrant, sweet, neat, clean! I had susuri the corners of the city that still has a lot of vendors peddling secondhand goods, prostitution complex that opened in the afternoon, and the attraction of a noodle maker by tearing and rock flour dough with both hands, without any tools.
The second experience was when he became the guiding group of Sichuan Province officials who learned about "livestock and Husbandry" in Indonesia. The most profound impression which is still stored in the head is incredible corruption that they do in Indonesia. Story, when they will make a payment for accommodation and travel business in Indonesia over, they asked for a receipt with a value many times over from what they should pay. Madam Zhang who became party leader in style does not seem to touch aristokratnya with this wicked case. His men had finished with a beautiful all these matters. The results "mark-up" that they do they make purchases using a wooden sculpture in Yogyakarta, Bali silver, and souvenirs seabrek which of course would be shared equally there.
Reading real purse book "China Undercover" by Chen Guidi and Wu Chuanto be easy for me to understand the context of the story up there. This story poignantly and bleeding from the majority of Chinese population were farmers. The story begins with the death of a farmer from the village Zuomang Ding Luying for being too vocal demands of the tax exemption strangling the village farmers. The second story is a village peasant massacre Zhang 4 conducted by the village party cadres are angry because the farmers do not want to be blackmailed by the various tax nonsense that they create. The third story is a tragedy Gao Village, providing a keangkaramurkaan Zhang Jidong to tear apart his own people because of the resistance of farmers. The tragedy occurred in the village fourth Wang, Baumiao District. The whole incident happened in Anhui Province, China, in the range of 1992-1996. That means going in the 21st century where human rights and justice before the law should have been enforced.
When a farmer yelled, "no one can exceed the law." With an official entengnya sneer: "Do you really believe that nonsense that you see on TV and you read in newspapers about the rule of law? do not be stupid. Maybe in America a can of local officials accuse the president - but that in America, not China. Let me tell you, this is China, people here are arranged, and I mengaturmu! "
This true story became controversial in China and got banned by the government. Can be dropped because the Chinese nation's image with a row of negative stamp: corrupt, sadistic, greedy, and so on. But 10 million copies had circulated bajakannya on the black market in China and now even been circulating in many countries.
The real strength of this purse is the style that seemed to speak dramatized to make the reader share the suffering of the peasants. Whereas the basic ingredients of this book is the result of research Chen Guidi and Wu Chuanto, who was none other than husband and wife who pay attention to the social problems the nation economy.
This story may not only happen in China, but could be present on the front page of our republic is, of course with a bit of sophistication of his modus operandi.

Download Here

Versi Indonesia

Cina Undercover
Rahasia Dibalik Kemajuan China

Pengarang : Chen Guidi & Wu Chuntao

Penerbit : Ufuk Publishing House

Beberapa kali saya memiliki pengalaman yang “berbau” Cina. Saat pertama ketika sempat berkunjung ke Kota Nanjing, Provinsi Jiangsu, sepuluh tahun lalu. Kesan pertama yang menyergap mata adalah suasana kota yang kental dengan “suasana komunis.” Kumuh, berdebu, dekil, jorok! Beda jauh dengan “suasana kapitalis” yang wangi, harum, rapi, bersih! Sempat saya susuri pojok-pojok kota yang masih menyimpan banyak pedagang kaki lima yang menjajakan barang-barang bekas, komplek pelacuran yang buka di siang hari, dan atraksi seorang pembuat mie dengan cara mencabik dan mengayun adonan tepung dengan kedua tangannya, tanpa alat apapun.
Pengalaman kedua adalah ketika menjadi pemandu rombongan pejabat dari Provinsi Sichuan yang belajar tentang “livestock and husbandry” di Indonesia. Kesan paling mendalam yang masih tersimpan di kepala adalah praktik korupsi luar biasa yang mereka lakukan di Indonesia. Ceritanya, ketika mereka akan melakukan pembayaran untuk urusan akomodasi dan travelling selama di Indonesia, mereka minta dibuatkan kwitansi dengan nilai yang berlipat-lipat dari yang seharusnya mereka bayarkan. Madame Zhang yang menjadi pimpinan rombongan dengan gaya aristokratnya seolah tak bersentuhan dengan perkara nista ini. Anak buahnya dengan cantik telah menyelesaikan segala urusan ini. Hasil “mark-up” yang mereka lakukan mereka pakai buat belanja patung kayu di Jogja, perak di Bali, dan seabrek oleh-oleh yang tentu saja akan dibagi rata di sana.
Membaca buku kisa nyata “China Undercover” karya Chen Guidi dan Wu Chuanto menjadi mudah bagi saya untuk memahami konteks cerita yang terbangun di sana. Ini kisah pilu dan berdarah-darah dari sebagian besar penduduk Cina yang petani itu. Kisah diawali dengan matinya seorang petani Ding Zuomang dari Desa Luying karena terlalu vokal menuntut pembebasan pajak yang semakin mencekik leher petani desa. Kisah kedua adalah pembantaian 4 petani Desa Zhang yang dilakukan oleh kader partai desa yang murka karena para petani tak mau diperas dengan berbagai pajak ngawur yang mereka ciptakan. Cerita ketiga adalah tragedi Desa Gao, yang mengumbar keangkaramurkaan Zhang Jidong untuk mengobrak-abrik penduduk desanya sendiri karena adanya perlawanan petani. Tragedi keempat terjadi di Desa Wang, Kecamatan Baumiao. Seluruh peristiwa itu terjadi di Provinsi Anhui, Cina, dalam rentang tahun 1992-1996. Itu artinya terjadi pada abad 21 di mana hak asasi dan keadilan di depan hukum harusnya sudah ditegakkan.
Ketika seorang petani berteriak, “tak seorangpun dapat melebihi hukum.” Dengan entengnya seorang pejabat mencemooh: “Kau benar-benar percaya omong kosong yang kau lihat di TV dan kau baca di Koran-koran mengenai aturan hukum? jangan tolol. Mungkin di Amerika seorang pejabat lokal dapat mendakwa presiden – tapi itu di Amerika, bukan Cina. Biar kuberi tahu, ini Cina, di sini manusia yang mengatur, dan aku mengaturmu!”
Kisah nyata ini menjadi kontroversial di Cina dan sempat dilarang oleh pemerintah. Karena bisa menjatuhkan citra bangsa Cina dengan sederet cap negative: korup, sadis, rakus, dsb. Tapi 10 juta kopi bajakannya sempat beredar di pasar gelap di Cina dan kini bahkan sudah beredar di banyak negara.
Kekuatan kisa nyata ini adalah pada gaya bertutur yang seolah didramatisasi hingga membuat pembaca ikut merasakan penderitaan para petani. Padahal bahan dasar penulisan buku ini adalah hasil riset Chen Guidi dan Wu Chuanto, yang tak lain adalah suami-istri yang menaruh perhatian pada masalah social ekonomi bangsanya.
Kisah ini boleh jadi tak hanya terjadi di Cina, tapi bisa saja hadir di halaman depan republik kita ini, tentu dengan sedikit kecanggihan modus operandi-nya.


Donwload Disini

0 komentar:

Posting Komentar

 

Free Book Lovers - Pecinta Buku Gratis Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez